Peranan Industri MIgas Di Indonesia

0

industri migas

Peranan Industri minyak serta gas bumi di Indonesia mencatat perkembangan cepat sejak Pertamin dan Permina diintegrasikan ke Pertamina. Semua operasi perminyakan yang meliputi beberapa aspek operasi selalu di tujukan pada oleh Pemerintah.
Seperti dalam Undang Undang Dasar 1945 Bab XIV Pasal 33 Ayat 3 yang berbunyi :
“Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”
Merujuk pada amanat undang – undang di atas fungsi industri migas, yang meliputi beberapa segi pembangunan nasional, jadi minyak serta gas menjadi unsur terpenting di ketahanan nasional. Semua bagian perminyakan, produksi, pemrosesan, distribusi, pengangkutan, ataupun pemasaran minyak mentah jadi makin penting serta wajib dipegang langsung oleh Pertamina dan diawasi oleh pemerintah.
Akan tetapi pencarian minyak bumi di Indonesia, sampai tahun 60-an masih terbatas dikerjakan di daratan. Semenjak penemuan lapangan Cinta (1970) lapangan minyak pertama di offshore, Indonesia sudah buka peluang untuk mengerjakan daerah operasi di area offshore yang lain. Perubahan tehnologi yang semakin maju sangat mungkin pemakaian associate gas ataupun non assosiated gas untuk bahan export (LNG) ataupun bahan untuk kebutuhan dalam negeri berupa (LPG).

Sumber-sumber gas di sejumlah tempat, baik di offshore ataupun di daratan diproses dengan membuat unit pengolah yang menghasilkan LPG. Beberapa unit pengolah LPG itu teletak di anjungan offshore, yang lengkap dengan tangki penampung serta pelabuhan pengekspor.
Pemakaian sumber gas, untuk mendukung beberapa kepentingan industri dalam negeri pertama kali dikerjakan di Sumatera Selatan dengan satu jaringan pipa untuk pabrik pupuk Sriwijaya, serta di Jawa Barat dengan skema pipa gas Jawa Barat untuk menyuplai pabrik pupuk Kujang di Purwakarta, industri semen, pabrik Baja Krakatau dan kebutuhan industri serta rumah tangga di daerah Jakarta.
Naiknya pekerjaan perminyakan Indonesia bisa disaksikan dari kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract – PSC Indonesia). Pertamina sudah di tandatangani kira-kira beberapa puluh kontrak dengan perusahaan minyak asing.
Pertamina menjadi “pilar” dalam usaha-usahanya di bagian eksplorasi dan produksi untuk meniti jalan intensifikais serta ekstensifikasi. Pekerjaan intensifikasi meliput penambahan pekerjaan dengan kwalitatif di bagian eksplorasi,baik berbentuk studi regional, geologi lapangan, geofisik, seismik, pengeboran eksplorasi danevaluasi. Diluar itu, dikerjakan ikut penambahan kuatitatif di bagian produksi seperti peningkatan lapangan,pembangunan sarana produksi,studi reservoir serta studi lapangan produksi yang sempat ada.

Usaha ekstensifikasi mencakup usaha-usaha untuk temukan area – area baru yang bisa mendapatkan minyak. Peningkatan pekerjaan eksplorasi serta produksi ini, di samping aspek dana, tenaga, perlengkapan ataupun tehnologi. Supaya Potensi cadangan minyak dan gas yang kita punya dapat didorong produksinya buat pembangunan negara disektor lain.

Penemuan- penemuan sumur- sumur serta lapangan baru, baik di offshore ataupun di darat pada seputar tahun 1970-an sudah dapat menghasilkan minyak mentah 1,6 juta barrel/hari (bbl/day). Untuk tingkatkan produksi, minimum menjaga produksi agar tidak terjadi penurunan, diperlukan dana yang besar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here